Yadha Apriliyanti S
1 PA 19
1C514341
Penulisan 1
1 PA 19
1C514341
Penulisan 1
Tempurung
dari Blitar Tak Lagi Murung
SURABAYA,
KOMPAS.com - Siapa tak kenal kerajinan tempurung kelapa. Di sejumlah kota besar
dan tempat-tempat wisata, kerajinan tangan ini gampang dijumpai.
Bentuknya
macam-macam. Namun hampir semua kerajinan dari bahan limbah ini dibiarkan
memiliki warna seperti aslinya. Serba coklat alami. Berkesan eksotik.
Di Jawa Timur, ada ratusan perajin
tempurung kelapa. Jumlahnya terus bertambah karena keberadaan limbah buah
kelapa juga melimpah.
Laiknya
membuat kerajinan, mengolah tempurung kelapa juga butuh keterampilan. Teknologi
yang dipakai tak perlu canggih. Sentuhan inovasi membuat kerajinan ini semakin
diminati sampai mancanegara.
Dwi
Wahyuni, penggemar kerajinan tempurung kelapa, mengaku punya banyak koleksi
kerajinan ini. “Dulu saya membeli ketika tugas di Bali. Hasil olahan tempurung
kelapa di sana lebih halus dan bentuknya inovatif. Kalau yang saya jumpai di
Jatim, kok standar,” aku wanita 42 tahun ini.
Koleksi
terbanyak adalah tas dari tempurung kelapa, lainnya aksesori dan peralatan
rumah tangga. “Harganya cukup terjangkau, tak sampai Rp 100.000. Kalau
kerajinan yang berupa tas masih awet sampai sekarang. Tapi kalau sendok, garpu
dan peralatan memasak lainnya kurang awet, mungkin karena sering dipakai,” ujar
Dwi.
Demikian
halnya aksesori macam ikat pinggang, kalung, serta hiasan interior rumah.
“Tempurung kelapa meskipun kelihatannya keras, tapi dalam tempo dua tahunan
gampang retak atau pecah. Terutama yang dipecah-pecah menjadi bulatan kecil,”
lanjut ibu satu anak ini.
Bagi
Hepicsa Setiayuda, perajin tempurung kelapa asal Blitar, ide awal memulai usaha
ini dilatarbelakangi limbah tempurung kelapa yang melimpah di kawasan rumahnya.
“Pohon
kelapa tumbuh melimpah di Desa Seduri, Kecamatan Wonodadi. Waktu itu yang
diolah cuma isi buahnya saja, tempurungnya dibuang dan numpuk. Di tempat lain
ada yang dipakai bahan baku briket tapi tidak banyak, mungkin karena teknologi
pengolahnya juga terbatas,” jelas pria kelahiran 2 Maret 1984 ini, ditemui di
sela Jatim Fair di Grand City.
Paman
Hepic iseng-iseng mengolah tempurung sendiri dengan dibantu mesin potong
sederhana yang berukuran kecil. Dari situlah usaha berawal, sekitar 11 tahun
silam.
“Dulu
modalnya kecil sekali, sekarang omzet per bulan tak kurang dari Rp 70 juta.
Tahun ini termasuk sepi order karena perajin sudah sangat banyak, jadi
persaingannya ketat dan tidak bisa pasang harga tinggi. Order dari mancanegara
sekarang tinggal Malaysia dan Thailand saja,” katanya.
Jenis
kerajinan yang banyak dipesan seperti, lampu hias dan tas fashion. “Sebetulnya
apapun jenis usaha pengolahan limbah, jika di-support maka bisa sangat
berkembang. Kendalanya justru bukan modal, tapi lebih ke inovasi dan pemasaran.
Ini mengingat pasar kerajinan tempurung kelapa di pasar domestik sudah mulai
jenuh,” jelas Hepic.
Diakuinya,
untuk mengekspor tidak mudah. “Standar kualitas harus tinggi, jumlah
produksinya juga harus stabil,” ujar alumni Pendidikan Keguruan dari
Universitas Surabaya ini.
Melalui
gerai Butik Kelapa, Wood and Coconut, Hepic dan 78 warga kampungnya kini mampu
memroduksi 200 unit barang per jenis. Saat ini ada sekitar 50 jenis barang,
antara lain celengan, tempat tisu, dompet, topeng, ragam aksesori, tas, hiasan
interior ruangan.
“Sistem
kerjanya borongan dan pengerjaannya bisa di rumah warga sendiri, finishing-nya
baru di pabrik saya. Tapi khusus jenis lampu hias, pengerjaannya tidak bisa
langsung banyak karena tenaga ahlinya cuma satu orang,” papar Hepic, yang
biasanya memesan puluhan ikat tempurung sekaligus. Per ikat yang terdiri dari
puluhan tempurung itu biasanya dihargai Rp 15.000.
Untuk
menggali pasar, Hepic menggali ide melalui browsing di dunia maya dan
konsultasi pada eksportir. “Usaha saya dapat pembinaan dari Universitas
Brawijaya dan Dinas Sosial Provinsi Jatim. Inovasi kadang juga digali dari
sana,” ujarnya.
Ke
depan, mantan guru SD ini mengaku, bakal menjelajah pasar ekspor Australia dan
AS. “Kapan hari sudah ada penawaran dari buyer di sana. Tinggal saya inovasi
produk dan kirim contoh,” jelas sulung tiga bersaudara ini.
Hepic
dipercaya mengelola usaha limbah tempurung kelapa ini lantaran tinggalnya tak
jauh dari rumah paman. Selain karena anak-anak pamannya yang masih berusia
sekolah dasar, orangtua Hepic sendiri juga berprofesi sebagai guru dan memiliki
adik-adik yang masih kecil.
SUMBER : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/10/23/06443595/twitter.com
Tanggapan : Dengan adanya pembuatan tempurung
ini menjadi barang yang berharga adalah baik, karena semakin banyaknya
pengerajin yang memanfaatkan limbah/sampah seperti ini juga akan bermanfaat
untuk lingkungan yang mungkin sudah banyak tercemar dengan limbah yang sudah sering
kita lihat.
Kesimpulannya : Tempurung kelapa tidak selamanya
menjadi tempurung limbah, karena selama tempurung ada di tangan yang ahli
tempurung akan menjadi sebuah barang yang berharga, unik, cantik dan
bermanfaat.
- Bagaimana pendapat dan pengamatan anda tentang "Anak laki-laki menunjukan kekreativitas yang lebih besar daripada anak perempuan terutama setelah masa kanak-kanak" ?
Menurut pendapat saya pernyatan di atas adalah benar dan menurut pengamatan saya, Anak
laki-laki memang lebih menunjukan kekreativitasannya daripada anak
perempuan,karena dari yang saya lihat laki-laki lebih sering memulai membuat
permainan yang baru dan lebih menantang yang jarang anak perempuan lakukan.
Jujur permainan perempuan lebih membosankan yang hanya sekedar main
masak-masakan saja yang sering saya lihat. Anak laki-laki mengeluarkan
kekreativitasannya juga melewati cara bagaimana mereka berkomunikasi. Dan
pendapat saya memang benar apa adanya.